Janggal





Bermulai dari sebuah kejanggalan yang ku rasakan. Ada perbedaan dari mu yang muncul, semakin hari semakin banyak perubahan. Tak ada lagi, kata-kata rindu seusai kita bertemu. Aku lihat semua didalam bola matamu, pantulan cahayanya berbeda dari biasanya. Tak adalagi aura bahagia yang kau pancarkan, bahkan senyum yang kau lepaskan pun nampak menyembunyikan sesuatu.

Aku mulai menemui percakapan kau dengan orang lain yang tak kutemui pada percakapan kita berdua. Wajar saja aku curiga, berusaha mencari tahu apa sebabnya. Bukan hanya mencari tahu masalah penyebab kau berubah, tapi aku juga berusaha keras mendalami diri ku sendiri. Barangkali ada kesalahan yang tak kurasakan saat membuatnya. Atau mungkin ada harapanmu padaku yang tak kupenuhi. Bisa saja aku tak merasakan itu semua saat kau mulai berubah.

Perbedaan demi perbedaan yang kini semakin marak. Mengapa kau bisa melontarkan cerita hari-harimu pada orang lain, tapi tidak denganku. Wajar saja aku curiga, sebetunya apa yang terjadi.
Aku tahu sifat perempuan, kadangkali sulit ditebak. Menyebalkan sekali saat seperti ini terjadi, laki-laki selalu serba salah dihadapannya. Diam dibilang tak perduli, bertanya dibilang tak pernah mengerti.


Semenjak kau berubah, banyak petuah bertanya padaku.


Kata orang, jika banyak masalah yang datang dan selalu datang, kemudian ada saja kendala yang menghambat. Itu tandanya tidak cocok. Namun bagiku, banyaknya masalah saat ini mengajarkanku caranya berjuang. Berpedih dahulu, berbahagia kemudian. Semakin banyak masalah yang kita selesaikan sekarang membuat kita terlatih menghadapi ini semua. Perihal kau lebih nyaman dengan orang lain dari pada aku, hanya aku anggap sebagai angin siur.  Teguran agar aku menoleh kebelakang, untuk bisa terus memperbaiki diri.

Coba bandingkan, sesuatu yang sulit diraih pasti akan dijaga dengan serius. Ketimbang sesuatu yang mudah didapatkan, cendrung akan disia-siakan.

Kamu selalu membuaiku dengan kejutan-kejutan baru dihariku. Pertama, kau tak pernah membiarkan rindu datang padaku. Kedua, kau selau mengerti kapan aku ingin sendiri. Bukan termakan oleh ego yang menghancurkan perasaan. Ketiga, dan seterusnya kau selalu bilang “Aku takan pernah pergi darimu.” Laki-laki mana yang tidak menyeriusi perasaannya jika mendengar wanitannya berbicara seperti itu. Jangankan hati, semua mimpinya rela dikandaskan hanya untuk mendapat genggamanmu.
Bahkan aku pun selalu mencekal perkataanmu, jangan berjanji seperti itu, manusia senatiasa terbolak-balikan hatinya. Siapa tau, diantara kita berdua ada yang akan terluka. Langsung saja kau berdalih ketika aku mencekalmu, mengabaikan nasehatku itu. Penuh yakin kau selalu menepiskan keraguanku.

Sampai masanya, aku benar-benar sudah ada didalam dunia mu. Kamu selalu menjadi pengobatku dalam semua resah.

Dilanda perubahan tadi membuatku berprasangka yang tidak-tidak. Kamu yang selalu menolak saat ku cekal janjimu, mana mungkin mengingkari janji yang kau paksa dengan mengikatkanya padaku. Aku, masih dengan kepercayaanku yang tak pernah percaya bahwa kau benar-benar berubah. Pasti ada alasan kuat, pasti semua ini agar kita lebih baik lagi kedepannya. Bukan untuk pergi saling meninggalkan.

Aku tak tahu apa yang membuatku begitu mempertahankanmu, bahkan menempatkanmu diatas langit mimpi-mimpiku.

Aku mementingkanmu dari segala urusanku. Menganggap kamu adalah hal pasti yang memang harus ku perjuangkan betul-betul.



Ibnu Ikhsan Muhalal


Comments