Aku mulai menemui percakapan kau
dengan orang lain yang tak kutemui pada percakapan kita berdua. Wajar saja aku
curiga, berusaha mencari tahu apa sebabnya. Bukan hanya mencari tahu masalah
penyebab kau berubah, tapi aku juga berusaha keras mendalami diri ku sendiri.
Barangkali ada kesalahan yang tak kurasakan saat membuatnya. Atau mungkin ada harapanmu
padaku yang tak kupenuhi. Bisa saja aku tak merasakan itu semua saat kau mulai
berubah.
Perbedaan demi perbedaan yang
kini semakin marak. Mengapa kau bisa melontarkan cerita hari-harimu pada orang
lain, tapi tidak denganku. Wajar saja aku curiga, sebetunya apa yang terjadi.
Aku tahu sifat perempuan, kadangkali
sulit ditebak. Menyebalkan sekali saat seperti ini terjadi, laki-laki selalu
serba salah dihadapannya. Diam dibilang tak perduli, bertanya dibilang tak
pernah mengerti.
Semenjak kau berubah, banyak
petuah bertanya padaku.
Kata orang, jika banyak masalah
yang datang dan selalu datang, kemudian ada saja kendala yang menghambat. Itu
tandanya tidak cocok. Namun bagiku, banyaknya masalah saat ini mengajarkanku
caranya berjuang. Berpedih dahulu, berbahagia kemudian. Semakin banyak masalah
yang kita selesaikan sekarang membuat kita terlatih menghadapi ini semua. Perihal
kau lebih nyaman dengan orang lain dari pada aku, hanya aku anggap sebagai
angin siur. Teguran agar aku menoleh
kebelakang, untuk bisa terus memperbaiki diri.
Coba bandingkan, sesuatu yang
sulit diraih pasti akan dijaga dengan serius. Ketimbang sesuatu yang mudah
didapatkan, cendrung akan disia-siakan.
Kamu selalu membuaiku dengan
kejutan-kejutan baru dihariku. Pertama, kau tak pernah membiarkan rindu datang
padaku. Kedua, kau selau mengerti kapan aku ingin sendiri. Bukan termakan oleh
ego yang menghancurkan perasaan. Ketiga, dan seterusnya kau selalu bilang “Aku
takan pernah pergi darimu.” Laki-laki mana yang tidak menyeriusi perasaannya
jika mendengar wanitannya berbicara seperti itu. Jangankan hati, semua mimpinya
rela dikandaskan hanya untuk mendapat genggamanmu.
Bahkan aku pun selalu mencekal
perkataanmu, jangan berjanji seperti itu, manusia senatiasa terbolak-balikan
hatinya. Siapa tau, diantara kita berdua ada yang akan terluka. Langsung saja
kau berdalih ketika aku mencekalmu, mengabaikan nasehatku itu. Penuh yakin kau
selalu menepiskan keraguanku.
Sampai masanya, aku benar-benar
sudah ada didalam dunia mu. Kamu selalu menjadi pengobatku dalam semua resah.
Dilanda perubahan tadi membuatku
berprasangka yang tidak-tidak. Kamu yang selalu menolak saat ku cekal janjimu,
mana mungkin mengingkari janji yang kau paksa dengan mengikatkanya padaku. Aku,
masih dengan kepercayaanku yang tak pernah percaya bahwa kau benar-benar
berubah. Pasti ada alasan kuat, pasti semua ini agar kita lebih baik lagi
kedepannya. Bukan untuk pergi saling meninggalkan.
Aku tak tahu apa yang membuatku
begitu mempertahankanmu, bahkan menempatkanmu diatas langit mimpi-mimpiku.
Aku mementingkanmu dari segala
urusanku. Menganggap kamu adalah hal pasti yang memang harus ku perjuangkan
betul-betul.
Ibnu Ikhsan Muhalal
Ibnu Ikhsan Muhalal

Comments
Post a Comment